Sabtu, 21 Mei 2011

prasangka negatif

          Ketika les pelajaran matematika sedang berlangsung, tiba-tiba seorang murid datang terlambat. Pak gurupun langsung menegurnya, “saya kecewa sekali dengan kamu, sepertinya kamu tidak peduli dengan les ini, padahal ini sangat penting mengingat ujian sebentar lagi akan tiba, Pus up 25 kali..!!”. Murid itu langsung pus up.

Setelah ia melahsanakan hukuman itu, dengan muka pucat, ia bekata dengan suara lirih “maaf, saya ingin menyampaikan bahwa seharusnya saya tidak bisa ikut les ini, tapi karena saya mengingat les ini sangat penting, saya mencoba untuk hadir.”


Matanya berkaca-kaca, “tadi malam, ibu saya mengalami kecelakaan. Saat ini ia sedang dirawat di ICU dalam keadaan tak sadar. Jadi, tadi malam saya benar-benar tak bisa tidur karena menjaga ibu saya.”
Semua murid-murid lainnya langsung terperangah, mereka sudah berprasangka buruk dan terbelenggu oleh pikiran yang menganggap bahwa jika ada yang terlambat, berarti ia tidak disiplin.
      Dilain peristiwa, seorang kepala sekolah yang senantiasa melakukan sidak atau inspeksi mendadak. Suatu ketika ia melihat salah seorang siswa yang kakinya naik di atas meja. Ia berdehem berusaha memberi tahu bahwa dirinya tidak suka dengan sikap siswa itu. Tapi, siswa itu seolah tidak peduli dengan kehadirannya, sehingga ia marah dan langsung menendang mejanya.
Siswa itupun berteriak kesakitan, “aduuuuh.... pak...!! mengapa ditendang meja saya? Kaki saya sedang patah karena jatuh dari motor sewaktu digonceng pergi ke sekolah tadi”. Terbayang donk betapa kaget kepala sekolah itu. Dia telah terjebak dengan prasangka bahwa jika kaki naik di atas meja adalah tidak kopan.
Ini karena lingkungan kita ikut serta berperan dalam memengaruhi cara berfikir kita. Apabila lingkungan kita pahit, maka kita pun jadi pahit, selalu curiga, dan sering sekali berprasangka negative pada orang lain. Pikiran negative kita terkadang semakin bertambah, dan kian menguat ketika informasi negative yang kita terima terus bertambah. Prasangka negative ini mengalir dan berubah menjadi sikap “defensive” dan tertutup, karena selalu beranggapan bahwa orang lain musuh berbahaya, sehingga kita tidak mau bergaul. Akibatnya kita tidak punya teman, tidak bias kerjasama dengan orang lain, bahkan tersingkir di tengah pergaulan.**

Tidak ada komentar: